Cerita Rakyat: Dongeng Sangkuriang Tangkuban Perahu

Dongeng Sangkuriang Tangkuban Perahu merupakan cerita rakyat dari daerah Bandung Jawa Barat, yang berasal dari suku Sunda. Isi sinopsis dari cerita legenda Tangkuban Perahu banyak sekali mengandung pelajaran.

Buat kamu yang ingin mencari materi atau makalah legenda Gunung Tangkuban Perahu. Silahkan langsung saja simak cerita dibawah ini.

Dongeng sangkuriang tangkuban perahu


Cerita Sangkuriang dan Tangkuban Perahu.


Pada zaman dahulu di sebuah kerajaan makmur yang bernama Parahyangan, hiduplah seorang putri cantik bernama Dayang Sumbi, dia suka sekali menenun. Suatu hari Dayang Sumbi menenun di teras istana kerajaan, entah kenapa di hari itu dia sedikit pusing dan lemas, sementara benang pemintal nya berkali-kali jatuh, Dayang Sumbi pun menjadi malas untuk mengambilnya, karena jengkel benang pintal nya jatuh terus, dia pun berkata.

Dayang Sumbi : “Barangsiapa yang mengambil benang pintal itu untukku saya bersumpah kalau dia laki-laki akan kujadikan dia sebagai suami”.

Dayang Sumbi senang karena benang itu sudah berada di dekatnya, Lalu siapa gerangan yang mengambilnya?

Dayang Sumbi : “Siapa yang telah mengambil benang pintalan ini untukku, sepertinya tidak ada orang di sini”.

Betapa terkejutnya Dayang Sumbi karena yang telah mengambil benang pintalan itu adalah si Tumang, anjing kerajaan yang terkenal sakti dan setia. Si Tumang pun berkata.

Si Tumang : “Akulah yang telah mengambilkan benang pintalan itu untukmu Dayang Sumbi”.

Dayang Sumbi : “Ka ka kamu Tumang, berarti kamu akan menjadi Suamiku”.

Bagaimanapun Dayang Sumbi tidak bisa mencabut kembali sumpahnya, dia pun menikah dengan Tumang.

Hasil dari pernikahan mereka, Dayang Sumbi melahirkan seorang bayi laki-laki yang berwujud manusia, yang diberi nama Sangkuriang. Si Tumang berpesan kepada Dayang Sumbi supaya tidak mengatakan pada Sangkuriang jika Si Tumang adalah ayahnya.

Si Tumang : “Dayang Sumbi, tolong jangan katakan kepada anak kita jika aku adalah ayahnya”.

Dayang Sumbi : “Baiklah Tumang aku tidak akan mengatakannya kepada anak kita Sangkuriang”.

Sangkuriang pun tumbuh menjadi anak laki-laki yang sehat lincah dan cerdas. Si Tumang pun selalu mengikuti Sangkuriang kemanapun dia pergi, serta mengajarkan kesaktian yang dimilikinya kepada Sangkuriang.

Sangkuriang : “Ayo Tumang, kejar Aku! Hahahaha (Sangkuriang tertawa)”.

Si Tumang : “Iya, Sangkuriang Aku akan mengejarmu”.

Sangkuriang mengira bahwa si Tumang adalah anjing peliharaannya, dia tidak mengetahui jika Si Tumang adalah ayahnya.

Suatu hari Dayang Sumbi menyuruh Sangkuriang berburu binatang untuk pesta di Istana.

Dayang Sumbi : “Sangkuriang anakku Pergilah Berburu binatang ke hutan bersama Si Tumang untuk dijadikan santapan di pesta Istana nanti”.

Sangkuriang : “Baiklah Ibunda, Sangkuriang pasti akan mendapatkan hasil buruan yang sangat banyak”.

Sangkuriang pun pergi ke hutan di temani Si Tumang, sayangnya sampai hari gelap dia tidak mendapatkan hasil buruan, karena jengkel akhirnya Sangkuriang membunuh Si Tumang dan menyerahkan dagingnya sebagai hasil buruan untuk pesta Istana.

Dayang Sumbi tidak mengetahui jika daging itu adalah Si Tumang, Dia mengira itu daging hasil buruan.

Sangkuriang : “Ibunda, ini hasil buruan untuk pesta Istana nanti”.

Dayang Sumbi : “Wahh, terima kasih Anakku Sangkuriang”.

Setelah pesta usai, Dayang Sumbi menanyakan keberadaan Si Tumang yang tidak kelihatan di pesta Istana.

Dayang Sumbi : “Anakku Sangkuriang Apa kau melihat Si Tumang? Sudah ku cari kemana-mana tapi dia tidak ada”.

Akhirnya Sangkuriang mengakui perbuatannya.

Sangkuriang : “Anu, itu Ibunda Aku sudah membunuhnya dan kujadikan hewan buruan kemarin”.

Dayang Sumbi : “Apa yang kau lakukan Sangkuriang!”.

Dayang Sumbi tidak bisa menahan emosinya dia memukul Sangkuriang di keningnya hingga mengucurkan darah.

Sangkuriang : “Ampun-ampun, maafkan Sangkuriang Bu (Teriak Sangkuriang)”.

Akibat perbuatannya yang memukul Sangkuriang, Dayang Sumbi diusir dari Istana oleh sang raja. Bagaimanapun juga Sangkuriang adalah calon putra mahkota, tidak ada yang boleh memukulnya.

Dayang Sumbi pun akhirnya pergi meninggalkan istana. Waktupun berlalu, Sangkuriang tumbuh menjadi pemuda tampan, Sakti dan disegani. Suatu hari dia pergi berburu di hutan. Alangkah terkejutnya dia saat bertemu dengan seorang gadis yang sangat cantik wajahnya, begitu cantiknya Sangkuriang pun tidak tahu jika perempuan itu adalah Dayang Sumbi Ibunya, begitu pula sebaliknya dan mereka pun saling jatuh hati.

Sangkuriang tidak berpikir lama untuk melamar Dayang Sumbi, kemudian Dayang Sumbi menerima lamaran itu. Dia sama sekali tidak mengenal Sangkuriang yang sudah tumbuh dewasa.

Sangkuriang : “Dayang Sumbi, bersediakah kamu menjadi Istriku?”.

Dayang Sumbi : “Baiklah aku bersedia menjadi istrimu wahai pemuda tampan”.

Namun sebelum hari pernikahan, Dayang Sumbi menemukan bekas luka di kening Sangkuriang yang sama persis dengan anaknya dulu.

Dayang Sumbi : “Ya Tuhan ternyata pemuda ini adalah Sangkuriang Anakku, luka yang ada di keningnya sama seperti Sangkuriang Anakku”.

Dayang Sumbi segera berusaha mencari akal untuk menggagalkan pernikahannya dengan Sangkuriang.

Dayang Sumbi : “Sangkuriang kamu bisa menikah denganku, asalkan kamu bisa memenuhi permintaan dariku”.

Sangkuriang : “Apa gerangan permintaanmu wahai gadis cantik”.

Dayang Sumbi sudah memikirkan syarat itu, suatu hal yang tidak mungkin bisa dipenuhi oleh Sangkuriang.

Dayang Sumbi : “Aku ingin kamu mengubah bukit itu menjadi bendungan. Dan kamu membuatkan perahu untuk menyusuri bendungan itu, semua itu harus diselesaikan sebelum fajar menyingsing”.

permintaan Dayang Sumbi Sungguh berat, namun Sangkuriang tidak ingin kehilangan Dayang Sumbi.

Sangkuriang : “Baiklah aku akan mewujudkan semua permintaanmu”.

Sangkuriang mengeluarkan seluruh kesaktiannya, dia mengundang seluruh makhluk halus dan jin untuk membantu kesaktiannya yang dulu diajarkan oleh Si Tumang Ayahnya. Mereka lalu bekerja semalaman menutup sungai dan mata air dengan lumpur dan tanah.

Sangkuriang : “Akhirnya Aku bisa menjadikan bukit ini menjadi bendungan”.

Saat semua sudah terbendung, Sangkuriang pun pergi menebang pohon raksasa dan mulai membuat perahu yang sangat besar.

Sangkuriang : “Sekarang Aku tinggal membuat perahu besar untuk menyeberangi bendungan ini, Aku pasti bisa”.

Dayang Sumbi mulai gelisah sebab pekerjaan Sangkuriang hampir selesai, padahal fajar masih lama untuk terbit.

Dayang Sumbi : “Haduh bagaimana ini, aku harus segera menggagalkan usaha Sangkuriang sebelum terbit fajar”.

Dayang Sumbi berdoa kepada Tuhan agar usaha Sangkuriang gagal.

Dayang Sumbi : “Ouh Tuhan, Bagaimana mungkin Aku menikah dengan Anakku sendiri, itu tidak mungkin. Tolonglah percepat fajar datang agar semua makhluk halus itu pergi dan tidak ada yang membantu Sangkuriang menyelesaikan pembuatan perahu besar itu sebelum fajar tiba”.

Keajaiban pun terjadi, matahari terbit lebih cepat, usaha Sangkuriang pun gagal.

Saat mengetahui jika dirinya ditipu.

Sangkuriang : “Siapa sebenarnya dirimu? Kau sudah menipuku, tega sekali kamu”.

Dayang Sumbi menangis mendengar perkataan Sangkuriang.

Dayang Sumbi : “Bagaimana mungkin Aku bisa menikah denganmu Anakku. Sesungguhnya, Aku adalah Dayang Sumbi Ibu Kandungmu”.

Sangkuriang tidak percaya dengan ucapan Dayang Sumbi, dia marah.

Sangkuriang : “Tidak mungkin, Aku tidak percaya semua perkataanmu”.

Dayang Sumbi : “Aku Ibumu Sangkuriang, Ibu kandungmu”.

kemudian Sangkuriang menendang perahu buatannya hingga perahu itu terlempar jauh. Perahu itu jatuh dengan posisi terbalik dan berubah menjadi Gunung yang hingga sekarang dikenal dengan sebutan Gunung Tangkuban Perahu.

Demikianlah dongeng legenda Sangkuriang dan Gunung Tangkuban Perahu, yang sampai saat ini masih menjadi legenda di masyarakat Indonesia khususnya warga Bandung Jawa Barat tepatnya suku sunda.

Semoga artikel atau makalah dongeng legenda Sangkuriang dan Gunung Tangkuban perahu ini bermanfaat dan dapat menambah ilmu pengetahuan.

0 Response to "Cerita Rakyat: Dongeng Sangkuriang Tangkuban Perahu"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel