Malin kundang dikutuk jadi batu

Dongeng Malin Kundang – Kisah Cerita Rakyat Sumatra Barat

Diposting pada
5/5 (3)

Dongeng Malin Kundang adalah kaba (berita) yang berasal dari provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Legenda Malin Kundang bercerita tentang seorang anak yang dikutuk menjadi batu karena durhaka pada ibunya.

Menurut kepercayaan warga sekitar, batu di pantai Air Manis, Padang, konon merupakan sisa-sisa kapal Malin Kundang.

Seperti apa kisah cerita selanjutnya, berikut ini dongeng Malin Kundang beserta gambar animasi dan percakapan.

Dongeng Malin Kundang

Pada zaman dahulu kala hiduplah seorang anak bernama Malin Kundang bersama ayah dan ibunya yang miskin. Mereka tinggal di sebuah desa di tepi pantai.

Dongeng malin kundang

Desa itu kecil dan sepi, penduduknya banyak yang merantau untuk mencari penghasilan dan tidak banyak yang bisa dilakukan di desa mereka. Tanahnya gersang, ikan di laut pun sedikit.

Malin Kundang suka sekali bermain, setiap hari kerjanya hanya mengejar ayam satu-satunya milik orang tuanya. Malin kecil terus mengejar si burik, ketika Malin Kundang berhasil menangkapnya biasanya dia akan menyiksa ayamnya itu.

Malin kundang kecil

Malin Kundang: “Hahahaha… kemari ayam,, jangan lari.. akan ku tangkap kau burik (nama ayam).”

Suatu hari, Ayah Malin Kundang hendak pergi merantau ke negeri seberang. Konon katanya, negeri seberang sangat kaya dan cari uang di sana sangat mudah.

Cerita malin kundang

Ayah Malin: “Ayah berangkat ya Malin…”

Malin Kundang: “Iya Ayah..”

Ayah Malin: “Jaga dirimu baik-baik sama Ibumu.”

Malin Kundang: “Baik Ayah..”

Ayah Malin segera ikut naik kapal bersama penduduk lain yang hendak merantau. Tinggalah Ibu dan Malin di desa yang miskin itu.

Hari demi hari tidak ada kabar dari sang ayah, sang Ibu pun bekerja lebih keras untuk mencukupi kehidupan sehari-hari mereka. Sementara si Malin Kundang masih saja mengejar si burik.

Ketika suatu hari, hendak mengejar si burik, tiba-tiba Malin Kundang terjatuh, kaki Malin Kundang tersandung batu dia terjatuh sangat keras, lengannya tergores batu tajam. Lukanya cukup besar dan mengeluarkan darah.

Sang Ibu segera mengobati luka Si Malin Kundang dengan penuh kasih sayang dia merawat Malin.

Dongeng malin kundang bergambar

Ibu Malin: “Luka ini pasti sembuh, namun bekas lukanya akan susah hilang.”

Malin Kundang: “Aduh…. Sakait bu.. sakit..”

Hari berganti bulan, bulan berganti tahun, dan tahun berjalan dengan tergesa-gesa, tanpa terasa Malin sekarang menjadi pemuda yang tampan dan kuat. Dia mulai bosan tinggal di desa yang sepi dan miskin itu, dia ingin merantau seperti ayahnya.

Kisah Malin Kundang

Malin Kundang: “Ibu, aku ingin merantau seperti ayah. Izinkan aku merantau ke negeri seberang”

Ibu Malin: “Jangan anakku, Ibu takut kamu tidak kembali seperti ayahmu. Hanya kamu satu-satunya anakku, kalau kamu tidak kembali aku hidup dengan siapa.”

Malin Kundang: “Jangan khawatir bu, aku berjanji aku pasti kembali. Aku akan jadi orang kaya dan akan memboyong Ibu untuk ikut bersamaku.”

Akhirnya, tidak ada lagi yang bisa diperbuat ibunya, Malin Kundang bersikukuh untuk pergi. Malin Kundang menyelinap ke sebuah kapal, dia bersembunyi di peti kayu.

Kapan pun berlayar, namun di tengah laut kapal itu dicegat oleh bajak laut. Semua awak kapal dibunuh oleh bajak laut. Mereka semua merampas barang-barang berharga di kapal itu dan meninggalkan kapal itu terkatung-katung di laut.

Malin Kundang selamat karena dia sembunyi di peti. Saat dia keluar dari persembunyiannya kapal itu sudah terdampar di sebuah pantai.

Sungguh beruntung, sebab di dekat pantai itu ada sebuah desa yang subur dan kaya, pelabuhannya besar dan ramai.

Malin Kundang: “Wah… ada sebuah pedesaan. Disini aku akan mengadu nasibku.”

Malin tersenyum meski tubuhnya lemas tidak berdaya. Malin bekerja keras siang dan malam, hanya satu yang ada dalam benaknya yaitu jadi orang kaya.

Tekad dan kerja kerasnya membuahkan hasil, dia pun menjadi kaya. Punya kapal besar dengan 100 awak kapal.

Suatu hari Malin mengajak istrinya berlayar dengan kapal mewahnya. Mereka berlabuh di pelabuhan Desa kampung halaman Malin Kundang. Berita tentang suksesnya Malin Kundang terdengar sampai ke telinga ibunya.

Malin kundang

Ibu Malin: “Apakah itu kapal si Malin anakku..?”

Dengan hati riang, ibu yang sudah renta itu terseok-seok berjalan ke pelabuhan.

Ibu Malin: “Dia memang Malin Kundang, aku yakin.”

Batin ibunya saat melihat Malin turun dari kapal bersama istrinya.

Ibu maslin: “Malin… Malin kamu pulang nak.”

Istri Malin Kundang heran dengan seorang ibu tua yang berlari ke arah mereka sambil berteriak-teriak. Pakaiannya compang-camping, wajahnya renta dan lusuh.

Istri Malin: “Siapa dia kanda? Apa benar dia ibumu..?

Malin gelisah, dia tidak mau istrinya tahu kalau Malin berasal dari keluarga miskin.

Malin Kundang: “Entahlah adinda. Mungkin hanya pengemis tua yang meminta sedekah.”

Ibu tua itu mendengar perkataan Malin Kundang dan berubah sedih.

Ibu Malin: “Apa… kamu tidak mengenali wahai anakku? Aku ini Ibumu yang membesarkanmu..”

Malin Kundang: “Ibuku sudah lama meninggal, jangan mengaku-ngaku wahai pengemis tua… he!”

Ibu Malin: “Aku yakin kau Malin anakku. Lihatlah bekas luka dilenganmu, hanya Malin anakku yang mempunyai  bekas luka seperti itu..”

Malin Kundang makin marah, dia menyuruh pengawalnya untuk mengusir Ibu yang semakin tersedu-sedu.

Ibu Malin: “Ya Tuhan. Jika memang dia Malin anakku, ku kutuk dia menjadi batu..”

Seketika petir menggelegar padahal langit sedang cerah. Pelan-pelan Malin merasakan ada hal aneh dalam tubuhnya yang semakin kaku, Malin Kundang pun menyadari jika dia sedang di kutuk.

Malin kundang dikutuk jadi batu

Malin Kundang: “Haaa… ada apa dengan tubuhku,, tubuhku kaku seperti batu… Tiddaaakkkk..!”

Maling bersimpuh mencium tanah dan segera berubah menjadi batu. Terlambat sudah baginya untuk menyesali sifat durhaka kepada ibunya.

PENUTUP

Rekomendasi cerita dongeng menarik.

Itulah cerita dongeng Malin Kundang disertai dengan obrolan atau percakapan. Semoga bermanfaat bagi teman-teman semua.

Incoming search terms:

Berikan Nilai Anda

Bagikan ya :)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *